Aku Melihat Monster : Sindrom Alice In Wonderland

Mungkin kalian pernah membaca cerita dongeng atau menonton film Alice in Wonderland. Film animasi Alice in Wonderland produksi Walt Disney, karya Lewis Carrol, mengisahkan seorang gadis yang masuk ke lubang kelinci dan terjebak di dunia ajaib. Di dunia ini benda akan tampak kecil ataupun besar. Salah satu tokoh yang bisa kita jadikan contoh adalah Red Queen (Ratu Merah), yang memiliki ukuran kepala lebih besar daripada tubuhnya. Bagaimana jika orang-orang yang biasanya berukuran selayaknya orang kebanyakan, tiba-tiba terlihat memiliki kepala yang lebih besar dari tubuhnya?.

 Kelainan ini terjadi karena adanya kerusakan saraf pada otak yang menyebabkan penglihatan terganggu sehingga seseorang dapat berhalusinasi dengan melihat tokoh seperti Red Queen atau bentuk aneh lainnya yang menyerupai monster. Penyakit ini pun dikenal dengan nama sindrom Alice in Wonderland atau mikropsia. Penglihatan liliput atau halusinasi liliput adalah nama lain dari penyakit ini, disebabkan karena disorientasi neurologis dimana seseorang mengalami distorsi lengkap yang mempengaruhi persepsi realitas mereka. Orang-orang yang mengalami sindrom Alice in Wonderland ini sering kali melihat ukuran tubuh orang-orang di sekitarnya seperti melihat melalui kacamata cembung. Bagian kepala atau bagian tubuh orang-orang yang dilihatnya terlihat seperti membesar tiba-tiba.

Penderita sindrom Alice in Wonderland mengalami beberapa halusinasi sebagai berikut:

> Benda-benda seolah mengecil / membesar
> Orang terlihat mengecil
> Penyimpangan (distorsi) bentuk-bentuk objek
> Tak mampu mengenali wajah / objek tertentu
> Objek seolah menjauh
> Berulang-menetapnya kesan visual 
> Persepsi tentang multiple images / seakan-akan banyak benda padahal cuma satu
> Halusinasi visual ( berkaitan dengan objek kompleks seperti manusia dan binatang)
> Tidak punya persepsi warna
> Hilang kemampuan merasakan gerakan visual
> Kesadaran berubah

 Biasanya penderita sindrom Alice in Wonderland mengalami setiap hal tersebut sekitar 10 detik hingga 10 menit. Namun, tidak semua hal tersebut mereka alami, hanya beberapa diantaranya.

 Sebagian besar penderita penyakit ini mengakui episode berhenti atau menghilang setelah beberapa minggu. Hanya sedikit yang mengeluh berulang atau muncul sesaat, itupun setelah 1 hingga 3 tahun. Selain perubahan dalam penglihatan, si penderita juga merasakan perubahan waktu yang terasa lambat atau cepat, perubahan sentuhan dimana benda yang disentuh berbeda, seperti tanah yang terasa empuk dan mengalami perubahan suara. Biasanya penyakit ini menyerang anak-anak dan remaja pada umumnya.

  Sindrom Alice in Wonderland berkaitan erat dengan kejang Parsial kompleks, epilepsi, radang otak (cerebral vasculitis), psikosis, infeksi berbagai virus (misalnya : Epstein-Barr, varicella, Coxsackievirus B1). Sindrom ini juga berhubungan dengan kejadian tifus yang menyebar ke otak (Alice in Wonderland typhoid encephalopathy) serta abdominal migrain, yaitu serangan kolik perut yang dialami 20% anak-anak dengan migrain. penyebab lain dari sindrom Alice in Wonderland adalah beberapa obat psikotropika, efek samping atau intoksikasi (keracunan) obat yang berat, sirup obat batuk yang mengandung dihydrocodein phosphate dan dl-methylephedrine hydrochloride.

  Menariknya, depresi dan gangguan fungsi otak juga merupakan penyebab dari sindrom Alice in Wonderland. Hipersensitivitas dopaminergik inilah yang terjadi karena penurunan kadar neurotransmiter atau neuromodulator adalah perubahan fungsi reseptor dopaminergik. Seorang psikiater asal Inggris yaitu John Todd meneliti sindrom ini dan dipercaya bahwa sang penulis novel, Lewis Carrol, menderita sindrom tersebut sehingga ia menciptakan karyanya ini. Oleh sebab itu, ada beberapa orang yang percaya bahwa terkena sindrom Alice in Wonderland itu sehat.

 Seorang gadis berusia 11 tahun dievaluasi untuk episode perilaku abnormal, terkadang dicetuskan oleh demam. Di beberapa kesempatan, ia mendiktekan pengalamannya kepada Ibunya, berikut ini kutipan langsungnya:
    "Aku terbangun dari tidur lalu beranjak ke kamar mandi. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku merasa seolah-olah aku berjalan sangat cepat. Aku ingat saat terakhir aku sakit dan berhalusinasi sehingga lampu dan TV kunyalakan. Namun aku masih saja merasa tidak nyaman seolah aku bermimpi buruk. Saat aku memasuki kamar mama, pintu yang kupegang tebalnya terasa sekitar 1 kaki ( kurang lebih 30 cm. Saat melintas hall, seolah aku berlalu begitu cepat seperti saat ketika kamu ingin berhenti namun energi di dalam tubuhmu menghebat. Seakan-akan kamu akan meletus dan matamu melotot, seperti akan meledak). Semua berlalu begitu cepat. Kumerasa tanganku seperti terbuat dari ranting kecil yang berlumuran bubur daging di luarnya. Kumerasa seperti mengenggam sesuatu di tanganku. Aku tertidur di samping mamaku di ranjangnya. Aku terbangun dan tidak tahu di mana. Saat ku genggam jari mama, kutahu jika terbangun dari tidur, tangan-tanganku terasa mengecil lagi sehingga kujaga agar jari-jari mama tetap mekar. Lalu, untuk membuktikan kepada diriku sendiri tanganku berukuran normal, kugenggam erat seluruh tangan mama.

 Tiada yang kusut. Kuamati sekitar ruang. Tampak semuanya seolah telah disetrika. Dinding-dinding dan tempat tidur terlihat halus dan rata. Kucoba membuat sprei menjadi kusut, namun tetap saja tak bisa kusut. Bayangan-bayangan orang memasuki kamarku saat aku masih kecil. Anak-anak berlarian dengan krayon di wajah mereka. Tak seorangpun peduli. Seorang wanita angkuh mengendarai mobil besar berwarna putih. Saat lain ketika aku muda dan cantik, aku milik keluarga lainnya. Kita pergi camping. Pepohonan putih tampak dimana-mana. Semua bentuk terukir di pepohonan itu. Kita duduk di bangku di daerah berawa. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang melotot di dalam bangku. Sesosok tubuh muncul, tergantung dalam posisi terbalik - berlumuran darah - dan kemudian kembali. Kau (mama) bergegas ke bak mandi merendamku untuk mendinginkan tubuhku, suaranya seperti ombak yang memukul-mukul pantai..sungguh, sangat keras. Papa juga tampak seperti orang lain, serupa orang jahat. Meskipun kutahu ia benar-benar ayahku, dan aku sedang berhalusinasi, aku merasa takut".

  Gadis itu sadar selama episode ini dan orientasinya bagus. Ia dapat mengingat kembali dengan jelas dan sangat detail, serta menemukan kedua orangtuanya benar-benar ketakutan.
Pasien ini memiliki sakit kepala berulang tanpa aura atau gejala saluran pencernaan, bebas dari manifestasi kompleks. Ibunya menderita nyeri kepala berat berulang. Tidak ada keluarga yang menderita kejang. Tidak ada bukti gangguan jiwa. Pemeriksaan neurologis dan elektrosenfalogram normal. Tidak ada terapi spesifik yang diberikan dokter.

  Untuk menetapkan diagnosis sindrom Alice in Wonderland sebaiknya tim medis perlu ekstra berhati-hati, karena sindrom Alice in Wonderland mirip dengan migrain, epilepsi, penyalah gunaan obat, gangguan mata, dan gangguan jiwa. Jika mengalami kesalahan saat rehabilitasi akan menyebabkan hal yang sangat fatal.

  Adapun pemeriksaan yang disarankan oleh dokter adalah pemeriksaan saraf, mata dan evaluasi kejiwaan. Pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan darah lengkap, tes widal, enzim hati, urea dan kreatinin. Pemeriksaan lain juga perlu dilakukan, seperti abdominal sonography, SPECT brain scan atau minimal CT scan otak.

  Untuk membedakan sindrom Alice in Wonderland, migrain dan epilepsi, maka perlu dilakukan pemeriksaan itu dan bila perlu, sebaiknya juga dilakukan pemeriksaan MRI, yaitu prosedur diagnostik mutakhir untuk memeriksa dan mendeteksi kelainan organ dalam tubuh dengan menggunakan medan magnet dan gelombang frekuensi radio tanpa radiasi sinar X atau bahan radioaktif.

  Sejauh ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan sindrom Alice in Wonderland, namun biasanya para penderita meminum obat anti migrain sebagai pilihan. Namun ada beberapa hal yang harus dihindari seperti makan coklat, anggur merah dan keju secara berlebihan, menjaga pola tidur yang teratur, jangan terlalu lelah bekerja dan hindari keluar malam.

Sumber :
                www.e-jurnal.com
                Fisiologi perilaku (J.W.Kalat jilid 1&2)
                Wikipedia.org
Carlson, N. R. 2004. Fisiologi Perilaku: Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
                          

                      
                           Zara Almyra_2018031073

Komentar

Postingan Populer